Postingan

RINDU AHMAD

Januari tamat.      Kenangannya penuh tidak ada ruang sisa. Tapi tidak barang satupun yang akan terkenang lewat tulisan. Semuanya aku simpan di memori treses, Jumud di sana. Mungkin akan hilang karena mengalami interval. Sebenarnya aku tetap menulis, tapi selesai sampai judul. Paragraf-pargrafnya aku ukir di batin. Aku tidak sampai titik dengan apa-apa yang jadi pikiran. Tidak ada momen atau kejadian berkesan bagiku. Januari kemari hanya tentang senin ke senin lagi. Tentang yang lumrah orang kerjakan. Sembahyang, belajar, menangis pun tertawa. bekerja untuk jadi lelah, atau mengagumi untuk sementara kecewa. Semua normal sejalan dengan hukum alam yan bagi kita (manusia) wajar.      Tapi hey! justru karena yang wajar itu aku jadi mulai menyadari tentang abu-abunya benar dan salah. Apa beda keduanya? Bahkan dari yang wajar wajar itu, aku sulit memisah keduanya. Tapi mungkin karena aku yang belum paham tentang bagaimana harusnya di klan bumi karena aku belum...

"MERAWAT KEWARASAN"

Gambar
            Aku yang mulai lebur dengan aku yang lain. Terhitung setelah purna dari amanah ranting teduh yang terlanju rakujadikan rumah kedua sejak pertama kenal dengannya. Sekarang juga masih sama, pun aku tidak ‘menginap’ di sana. Aku penghuni dalam kenang yang mendarah daging. Tentang ranting teduh itu, aku tidak ingin bercerita panjang lewat tulisan.Percuma, tidak akan pernah bisa aku hatamkan. Dibersamai dan membersamai sejak aku belum paham tentang kaki yang bukan hanya untuk berdiri sampai aku sekarang yang merasa mati kalau tanpa langkah. Berumah di ranting teduh yang itu, aku tersiram berbagai macam “air” yang dengan senang hati aku telan banyak-banyak. Aku kenyang makan ideologi  yang jadi nutrisi untuk  mendarah daging. Walaupun “makanan” ku tidak hanya dari “ranting” itu. Aku doyan semuanya. Yang “manis”, yang “asin”, bahkan yang “asam”.Seluruhnya sudah pernah kucicipi. Pun belum semuanya. T...

Rumah Ibuk

Gambar
Menulis tentang aku lewat sudut pandangku entah kenapa adalah yang paling sulit tapi juga yang paling aku ingin tulis. Seperti sudah banyak coretan  “pakek pensil” di satu buku yang sama bercerita tentang aku. Tapi selalu sama nasibnya , stuck. Paling banyak hanya di dua paragraf. “Kenapa ya?” Dalam hobiku  alias ndomblong  aku “mbatin” (hobiku juga). Ternyata merefleksi diri sendiri  tidak semudah mengevaluasi  seberapa berhasil metode yang kita gunakan dan korelasinya dengan pencapaian peserta pelatihan apalah itu. Merefleksi diri  berarti sekaligus melihat seberapa jauh kamu “sadar” atas nafas dan kaki yang ada padamu sejatinya untuk apa-selama ini. Oke, aku coba selesaikan dalam satu kali duduk saat siang mendung yang menjadi latar jogja sekarang. Sekarang, aku sedang mengambil jeda dari semua evolusi dan revolusi yang terus bergerak pun aku menjeda. Refleksi kali ini lebih ke bersyukurku karena Tuhan jadikan ibuk coach dalam hidupku. Dari seki...

judul semua postingan

Gambar
ini catatan tentang hikmah yang kata guruku tak ada bukunya, tak ada teori pastinya, dan aku mengamininya. ini catatan atas syukurku untuk hikmah hikmah yang dihadirkan karena aku meminta dan Tuhan menyayangiku. perihal yang diberi tidak baik menurut manusia, semoga aku, pun kamu tetap konsisten untuk terus menebar dan belajar bab syukur yang memang tak selesai sampai nanti tempat peristirahatan benar benar di lubang tanah yang itu. catatan ini berwajah seribu. tapi bukan berarti bertopeng. catatan ini bisa terasa hangat. tapi bisa membekukan sekalipun. bisa seolah menjadi magis. pun dengan sesuatu yang mistis.