"MERAWAT KEWARASAN"



            Aku yang mulai lebur dengan aku yang lain. Terhitung setelah purna dari amanah ranting teduh yang terlanju rakujadikan rumah kedua sejak pertama kenal dengannya. Sekarang juga masih sama, pun aku tidak ‘menginap’ di sana. Aku penghuni dalam kenang yang mendarah daging.
Tentang ranting teduh itu, aku tidak ingin bercerita panjang lewat tulisan.Percuma, tidak akan pernah bisa aku hatamkan.


Dibersamai dan membersamai sejak aku belum paham tentang kaki yang bukan hanya untuk berdiri sampai aku sekarang yang merasa mati kalau tanpa langkah.
Berumah di ranting teduh yang itu, aku tersiram berbagai macam “air” yang dengan senang hati aku telan banyak-banyak.
Aku kenyang makan ideologi  yang jadi nutrisi untuk  mendarah daging. Walaupun “makanan” ku tidak hanya dari “ranting” itu. Aku doyan semuanya. Yang “manis”, yang “asin”, bahkan yang “asam”.Seluruhnya sudah pernah kucicipi. Pun belum semuanya. Tapi memang, yang paling cocok dengan tubuh bagian fikirku adalah yang dari ranting teduh itu.


     Awalnya karena mencari aman. Menjagadiri, mempertahankan kehormatan, dan berlindung agar tidak tergilas zaman yang semakin edan, katanya. Dan tenyata jatuh cinta memeberi lebih dari yang kucari. Aku aman di sana. Sangat aman dengan nyaman. Dulu waktu aku masih benar-benar “menginap” di ranting teduh itu, aku pernah bertanya untuk sendiri, “apa iya, aku akan tetap aman tanpa menginap di sini?
Apa tanpa dibersamai ranting itu aku tetap hebat melawan zaman edan, sendirian?”  ya walaupun waktu itu juga belum hebat. Aku berekspetasi dan membulatkan tekad  dengan sungguh. Aku akan kuat  keluar dari zona “aman”, tanpa ada yang mengikat.


     Sampai jawaban atas pertanyaan itu sedikit demi sedikit terlihat di permukaan lewat masa dan apa yang kulalui tanpa ada yang berhenti. Kehidupan dan berproses ternyata menjadi karakter. Menurut sadarku, aku masih aman. Insyaallah masih takut Tuhan, selalu rindu Tuhan, dan semoga diridhoi Tuhan untuk terus menjadi hamba-NYA.


     Dulu waktu sebelum aku selesai amanah dan akan segera habis masa, rasanya ingincepat-cepat kuhatamkan. Aku berekspetasi akan lega, merdeka, dan bahagia karena akhirnya aku bisa sepenuhnya “mengurusi” aku saja, tanpa yang lain. Memang aku lega. Aku juga tidak akan mau hidup jika tidak merdeka. Dan Insyaallah juga selalu bahagia. Tapi untuk hanya “mengurusi” akusaja, ternyata membuat ganjil hidupku. Awal-awal kepurnaanku aku manganggap itu hal wajar. Karena kukira hanya tentang adaptasi kebiasaan, masalah teknislah. Ternyata terus berusaha menjadi baik untuk diri sendiri tanpa dibagi bagi membuatku malah mengambang. “loro piker” kalau orang jawa bilang. Aku mencari kesibukan. Belajar materi di kelas dengan sedikit sungguh-sungguh, bermain kemanapun yang dulu jarang kulakukan karena lebih betah “bermain” di ranting, dan banyak hal yang teman-teman lain sering lakukan untuk mengisi kosong hari selain duduk di kelas. Aku melakukan banyak hal yang sudahku list sebelum aku jadi merdeka untuk sendiri.
Aku bosan. Baru sangat sebentar, aku merasa aneh. Seperti bukan aku. Menurutku, bukan berlebihan jika aku sebut ini pergolakan hati. Karena memang seperti itu. Banyak hal yang kulakukan untuk merawat kewarasan. Refreshing seperti layaknya orang orang yang lain. Tapi ternyata merawat kewarasan tidak hanya raga saja yang butuh. Otak bagian fikirku cemburu. Memang tidak sepenuhnya kuanggurkan.Tapi ternyata, karena ada kemandekan “bergerak” dalam rangka mencari aman dalam kewarasan, menjadi sedikit sekali aku mengeksplornya. Menulis untuk menyampaikan apa yang enggan diucap jadi suli trasanya. Estetika berpikir juga jadi kurang mendebarkan hati lagi menurutku. Entah ini hanya tentang sugesti atau benar bahwa merawat kewarasan ala aku harus dengan dibersamai dan membersamai sesuatu. Coba kita lihat nanti ya. Sebentar lagi akan ada sesuatu yang mungkin bisa menjawab.

Komentar

Posting Komentar