RINDU AHMAD
Januari tamat.
Kenangannya penuh tidak ada ruang sisa. Tapi tidak barang satupun yang akan terkenang lewat tulisan. Semuanya aku simpan di memori treses, Jumud di sana. Mungkin akan hilang karena mengalami interval. Sebenarnya aku tetap menulis, tapi selesai sampai judul. Paragraf-pargrafnya aku ukir di batin. Aku tidak sampai titik dengan apa-apa yang jadi pikiran. Tidak ada momen atau kejadian berkesan bagiku. Januari kemari hanya tentang senin ke senin lagi. Tentang yang lumrah orang kerjakan. Sembahyang, belajar, menangis pun tertawa. bekerja untuk jadi lelah, atau mengagumi untuk sementara kecewa. Semua normal sejalan dengan hukum alam yan bagi kita (manusia) wajar.
Tapi hey! justru karena yang wajar itu aku jadi mulai menyadari tentang abu-abunya benar dan salah. Apa beda keduanya? Bahkan dari yang wajar wajar itu, aku sulit memisah keduanya. Tapi mungkin karena aku yang belum paham tentang bagaimana harusnya di klan bumi karena aku belum kaffah jadi manusia.
Apa yang benar-benar murni memperjuangkan kebenaran, keadilan, moral dan keindahan lain itu masih ada? Bagiku semua orang portunis. Pun aku. Hanya level keoportunisan manusia yang membedkan. Aku dan teman-teman misalnya, kita menjadi oportunis atas angka angka mati demi jadi dokter, arsitek, atau terserah kamu mau jadi apa. Di perkumpulan yang mengatasnamakan intelektualitas, moralitas, dan nilai-nilai agamis bagi generasi muda sebagai tujuannya pun ternyata juga tentang politik dan siapa menggeser siapa. Mungkin tidak semua. Tapi tete karena orang-orang itu oportunis.
Aku belum tahu mazhab kehidupan yang bagaimana yang akhirnya aku pilih.
Menjadi manusia normal dan oportunis atau manusia dengan keteguhan prinsip yang murni mendarah daging
Soal manusia yang opotunis, bagiku itu perlu dan sudah jadi fitrah
Kalau ingi hidup lama di bumi, jadilah oportunis. Tapi kalau merasa bumi bukan tempat yang enak untuk 'merokok sambil ngopi' teguhlah dengan prinsip sucimu. Atau yang bagaimana seharusnya?
Keadaan dan orang-orang menjasi sekutu untuk dusta, penghianatan, dan api api yang lain. Memang tak selalu membakar, tapi api selalu panas.
Begitu kira-kira. Kalau catatan ini agak aneh atau berkesan 'sok tau' setidaknya sekarang aku hanya sedang ingin memindahkan batinanku ke tulisan dengan jujur tanpa pertimbangan sudut pandang orang lain.
Jangan marah Tuhan.
Aku hanya sedang sangat rindu pada sosok Ahmad kekasih-Mu.
Kenangannya penuh tidak ada ruang sisa. Tapi tidak barang satupun yang akan terkenang lewat tulisan. Semuanya aku simpan di memori treses, Jumud di sana. Mungkin akan hilang karena mengalami interval. Sebenarnya aku tetap menulis, tapi selesai sampai judul. Paragraf-pargrafnya aku ukir di batin. Aku tidak sampai titik dengan apa-apa yang jadi pikiran. Tidak ada momen atau kejadian berkesan bagiku. Januari kemari hanya tentang senin ke senin lagi. Tentang yang lumrah orang kerjakan. Sembahyang, belajar, menangis pun tertawa. bekerja untuk jadi lelah, atau mengagumi untuk sementara kecewa. Semua normal sejalan dengan hukum alam yan bagi kita (manusia) wajar.
Tapi hey! justru karena yang wajar itu aku jadi mulai menyadari tentang abu-abunya benar dan salah. Apa beda keduanya? Bahkan dari yang wajar wajar itu, aku sulit memisah keduanya. Tapi mungkin karena aku yang belum paham tentang bagaimana harusnya di klan bumi karena aku belum kaffah jadi manusia.
Apa yang benar-benar murni memperjuangkan kebenaran, keadilan, moral dan keindahan lain itu masih ada? Bagiku semua orang portunis. Pun aku. Hanya level keoportunisan manusia yang membedkan. Aku dan teman-teman misalnya, kita menjadi oportunis atas angka angka mati demi jadi dokter, arsitek, atau terserah kamu mau jadi apa. Di perkumpulan yang mengatasnamakan intelektualitas, moralitas, dan nilai-nilai agamis bagi generasi muda sebagai tujuannya pun ternyata juga tentang politik dan siapa menggeser siapa. Mungkin tidak semua. Tapi tete karena orang-orang itu oportunis.
Aku belum tahu mazhab kehidupan yang bagaimana yang akhirnya aku pilih.
Menjadi manusia normal dan oportunis atau manusia dengan keteguhan prinsip yang murni mendarah daging
Soal manusia yang opotunis, bagiku itu perlu dan sudah jadi fitrah
Kalau ingi hidup lama di bumi, jadilah oportunis. Tapi kalau merasa bumi bukan tempat yang enak untuk 'merokok sambil ngopi' teguhlah dengan prinsip sucimu. Atau yang bagaimana seharusnya?
Keadaan dan orang-orang menjasi sekutu untuk dusta, penghianatan, dan api api yang lain. Memang tak selalu membakar, tapi api selalu panas.
Begitu kira-kira. Kalau catatan ini agak aneh atau berkesan 'sok tau' setidaknya sekarang aku hanya sedang ingin memindahkan batinanku ke tulisan dengan jujur tanpa pertimbangan sudut pandang orang lain.
Jangan marah Tuhan.
Aku hanya sedang sangat rindu pada sosok Ahmad kekasih-Mu.
Komentar
Posting Komentar