Rumah Ibuk
Refleksi kali ini lebih ke bersyukurku karena Tuhan
jadikan ibuk coach dalam hidupku. Dari sekian banyak doa yang rasa rasanya
selalu dikabulkan Tuhan sehingga aku percaya keajaiban-Nya tak tertandingi. Ada
satu nikmah yang tanpa aku minta telah diberi Cuma Cuma, walaupun Tuhan selalu
begitu ya. Keberadaanku di bumi ini, aku senang diamanahi jadi manusia. Bukan jadi
ayam atau kembang sedap malam. Aku bersyukur garisku menjadi manusia adalah
dengan “rumah ibuk“ bersma ibuk dan lewat ibuk. Bagiku, a’dhomu nikmah setelah
islam(insyaAllah) adalah menjadi anak ibuk-ayah. Didikan mereka subhanallah,
aku baru merasakan setelah aku mengenal dan saling membersamai orang orang
dengan seribu latar belakang. Keren. Aku pernah berfikir, bagaimana kalau nanti
aku jadi ibu tidak bisa sekeren dan setangguh ibuk ya? Kan kasian anakku. Tapi
semoga bisa seperti ibuk ya minimal.
Jadi begini tentangku ala coach andalan.
Aku kecil, sama dengan yang lainnya. Tanya kenapa bisa
begini, kenapa itu bentuknya seperti itu, Allah itu rumahnya mana, atau
menegeluhkan tentang orang orang yang ada di tv kenapa tidak pernah “keluar“
dari tabung itu. Ibuk, pun ayah selalu menjelaskan dengan sebenar benarnya
secara logis, bukan jawaban seadanya yang terkesan lucu atau menggemaskan.
Karena, mau dijawab dengan sebenar benarnya atau ala kadarnya aku akan bertanya
sampai kurung waktu kira kira satu dua minggu dengan pertanyaan yang sama. Dari
kecil aku diajari berpikir dengan logis disadari atau tidak.
Ibuk adalah ibuk paling galak.
waktu kecil aku selalu beranggapan seperti itu. Setiap hari, aku kecil hampir tidak pernah diomeli ibu. Ibuk itu nomer satu tentang kerapihan, kebersihan, kedisiplinan. Aku seperti tidak pernah lupa kejadian ini. Jadi, waktu itu aku sedang asyik menulis puisi dengan posisi tengkurap di lantai ruang keluarga. Aku yang waktu itu sedang menulis puisi setengah jadi, “diampiri“ temanku untuk bermain. Alhasil serakan media yang kupakai untuk menulis puisi kubereskan seadanya dan aku langsung bergegas pergi. Belum jauh aku meninggalkan jalan depan rumah, terdengar suara khas yang juga dihafal teman teman ku memanggil nama “ociiiiiiiiikkkkkk“. “ji ro lu“ kata kedua temanku sambil menoleh ke belakang sama sepertiku. Ibuk. Berdiri di jalan depan rumah sambil melambaikan tangan tanda perintah untuk aku mengahmpiri. “apa lagi Ya Allah, tadi perasaan izin main dibolehin kok ya” batinku sambil berjalan ke ibuk. Ternyata apa? Karena aku belum kaffah membereskan bekas puisiku tadi, ada beberapa peralatan tulis yang masih ada di lantai dan kertas puisi tidak ku taruh di meja belajar. Setelah menurut ibuk sudah rapi dan aku selesai tanggung jawab, aku baru boleh main lagi. Dan masih banyak cerita sejenis yang teman temanku sudah hafal. Itu ibuk, aku nggak akan bisa keluar rumah sebelum kamar bersih dan rapi, sholat wajib atau dhuha, apalagi belum mandi. Kapanpun itu. Jadilah sampai sekarang kebiasaanku. Walaupun aku slengekan, tapi sangsi kalau tidak rapi apalagi meninggalkan kamar dengan selimut tidak terlipat atau sejenisnya. Terimakasih ibuk, aku suka dimarahin ibuk. Eheee.
waktu kecil aku selalu beranggapan seperti itu. Setiap hari, aku kecil hampir tidak pernah diomeli ibu. Ibuk itu nomer satu tentang kerapihan, kebersihan, kedisiplinan. Aku seperti tidak pernah lupa kejadian ini. Jadi, waktu itu aku sedang asyik menulis puisi dengan posisi tengkurap di lantai ruang keluarga. Aku yang waktu itu sedang menulis puisi setengah jadi, “diampiri“ temanku untuk bermain. Alhasil serakan media yang kupakai untuk menulis puisi kubereskan seadanya dan aku langsung bergegas pergi. Belum jauh aku meninggalkan jalan depan rumah, terdengar suara khas yang juga dihafal teman teman ku memanggil nama “ociiiiiiiiikkkkkk“. “ji ro lu“ kata kedua temanku sambil menoleh ke belakang sama sepertiku. Ibuk. Berdiri di jalan depan rumah sambil melambaikan tangan tanda perintah untuk aku mengahmpiri. “apa lagi Ya Allah, tadi perasaan izin main dibolehin kok ya” batinku sambil berjalan ke ibuk. Ternyata apa? Karena aku belum kaffah membereskan bekas puisiku tadi, ada beberapa peralatan tulis yang masih ada di lantai dan kertas puisi tidak ku taruh di meja belajar. Setelah menurut ibuk sudah rapi dan aku selesai tanggung jawab, aku baru boleh main lagi. Dan masih banyak cerita sejenis yang teman temanku sudah hafal. Itu ibuk, aku nggak akan bisa keluar rumah sebelum kamar bersih dan rapi, sholat wajib atau dhuha, apalagi belum mandi. Kapanpun itu. Jadilah sampai sekarang kebiasaanku. Walaupun aku slengekan, tapi sangsi kalau tidak rapi apalagi meninggalkan kamar dengan selimut tidak terlipat atau sejenisnya. Terimakasih ibuk, aku suka dimarahin ibuk. Eheee.
Dari kecil sampai sekarang
ibuk-ayah paling anti langsung memberikan barang yang kita (anak anaknya)
pingin. Selalu harus ada hasil usaha senrdiri atau ada alasan yang bisa
diterima kenapa kita berhak punya itu. Apapun. Sekalipun itu es
lilin satu buah. Bukan karena ibuk-ayah pelit, malah sangatttt dermawan. Tapi karena
dibegitukan aku jadi sudah biasa kalau tidak mendapatkan sesuatu yang
diinginkan, atau biasa dengan “apa yang ada“ atau aku harus wani rekoso dan nggak tjuman
ngerumangsa. Terima kasih banyak Tuhan.
“rumah ibuk“ menganut sistem demokrasi
terbuka. Di sini kita bebas memilih apa yang akan kita jalani sesuai
musyawarah. Tapi pernah ibuk nggak pake sistem ini. Itu waktu akan
menyekolahkanku SD. Pulang dari super market ibuk bawa aku ke sd negeri yang
bisa dibilang favoritlah, itu sd kakakku sekolah. Tanpa ada rasa kenapa kenapa
aku kira hanya menjemput kakak. Ternyata aku diajak ke ruang kepala sekolah.
Singkatnya, ternyata aku sudah didaftarkan di sd itu. Tinggal menunggu senin
depan aku mulai sekolah di sd itu. Ibuk mengajakku mencoba seragam. Aku diam.
Enggak suka. “dah mau sekolah sd, jadi harus tambah solehah ya“ kata ibuk.
“ocik nggak mau sekolah kalo nggak yang di sekolah islam“ dengan santai aku
menimpali perkataan ibuk di depan kepala sekolah sd negeri itu. Aku ingat waktu
itu ruangan sekektika hening. Jadilah ibuk-ayah mencari sekolah islam yang
masih mau menerima siswi baru walaupun tinggal seminggu lagi ajaran baru.
Terima kasih ibuk-ayah. Merawat aku untuk menjadi merdeka.
Dan masih banyak lagi hal
hal kecil yang ternyata tidak semua orang tua biasakan ke anaknya seperti
ibuk-ayah. Itu, tentang didikan orang tua yang ternyata sangat berpengaruh
besar di kehidupan kita. Sekalipun aku sudah tinggal bersama sama orang banyak
dengan sistem yang harus ditaati. Tapi tetap “rumah ibuk“ adalah madrosatul ula
yang mutlak. Aku tetap merdeka dengan cara “rumah ibuk“ yang memaknai anggun
bukan dengan cantik paras lemah lembut dan pemalu. Tapi dengan kerja keras,
mandiri, cerdas dan rahmatan lil alamiin. Untuk informasi, ibuk sudah jarang
marah marah, tapi selalu bilang “sudah besar harusnya tau mana yang terbaik mana yang tidak harus dilakukan“. Aduh
ibuk, itu malah yang bikin ocik deg deg an.
bagus, ditunggu versi dari bapaknya ya ci. dengan gaya tulisan yang sama kak gini. biar seimbang.
BalasHapus